Sisi Gelap Dunia Kerja
Oleh: Fikri Aziz, S.E., Ak., CFP®, CA, ASEAN CPA
(Ketua Umum Yayasan Ali bin Abi Thalib Surabaya)
Bayangkan sebuah pagi ketika Anda terbangun dan menyadari bahwa Anda tidak lagi mampu beranjak untuk pergi bekerja. Tubuh Anda menolak, energi Anda habis, dan Anda merasa telah berubah menjadi sesuatu yang asing serta tidak berdaya. Anda terperangkap di dalam kamar, mendengarkan hiruk-pikuk dunia luar yang terus berputar tanpa Anda, sementara rasa cemas perlahan berubah menjadi isolasi yang nyata.
Dalam sistem ekonomi hari ini, situasi ini memotret sebuah realitas yang dingin: manusia sering kali diperlakukan layaknya sekadar roda gigi dalam mesin industri. Harga diri dan nilai seorang individu tidak lagi dilihat dari esensi keberadaannya, melainkan dari angka-angka produktivitas, pencapaian target, dan seberapa besar ia bisa menghasilkan materi. Kita dikondisikan untuk percaya bahwa “saya adalah apa yang saya kerjakan.”
Ketika seseorang memikul beban kerja yang eksploitatif atau menjadi penopang finansial utama, identitas dirinya melebur sepenuhnya dengan peran ekonomi tersebut. Ia bukan lagi seorang manusia merdeka yang utuh, melainkan sebuah aset yang harus selalu produktif. Hubungan kerja dalam korporasi modern didasarkan pada asas utilitas, kontrak profesional yang mengikat selama Anda masih bisa memberikan keuntungan.
Tragedi yang sebenarnya terjadi ketika “roda gigi” tersebut aus atau rusak. Saat kelelahan akut (burnout), krisis parah, atau masalah kesehatan menghantam dan membuat seseorang berhenti menjadi produktif, sistem ekonomi dan lingkungan sekitar sering kali menunjukkan wajah aslinya yang kejam. Rasa empati di dunia kerja memiliki batas kedaluwarsa yang sangat singkat. Ketika seseorang tidak lagi kompetitif, posisi mereka dengan cepat digantikan, dan mereka yang tertinggal mulai dianggap sebagai beban.
Kehilangan fungsi ekonomi ini memicu keterasingan yang luar biasa. Seseorang tidak hanya kehilangan mata pencaharian, tetapi juga kehilangan tempat dan pengakuan di masyarakat. Mereka mengalami penolakan berlapis: disingkirkan oleh sistem kerja, merasa bersalah terhadap orang-orang terdekat, dan akhirnya membenci diri mereka sendiri karena merasa tidak lagi berguna.
Menghadapi sistem yang cenderung menguras habis kemanusiaan ini, para pekerja modern mulai mencari cara untuk bertahan hidup. Salah satu fenomena yang lahir sebagai bentuk perlawanan diam-diam adalah quiet quitting. Istilah ini bukan berarti mengundurkan diri dari pekerjaan, melainkan keputusan sadar untuk hanya bekerja sesuai dengan porsi yang tertera dalam kontrak. Tidak ada lagi kerja lembur tanpa bayaran, tidak ada lagi membalas pesan kantor di akhir pekan, dan tidak ada lagi kerelaan untuk mengorbankan kesehatan demi tenggat waktu yang tidak masuk akal.
Quiet quitting sejatinya adalah mekanisme pertahanan diri untuk merebut kembali ruang personal yang selama ini dijajah oleh pekerjaan. Menjaga ruang personal berarti menarik garis pembatas yang tegas antara waktu untuk mencari nafkah dan waktu untuk menjadi manusia seutuhnya. Di dalam ruang personal inilah seseorang bisa merawat hobi, berkumpul dengan keluarga, atau sekadar beristirahat tanpa bayang-bayang tuntutan kantor. Ruang ini menjadi pengingat penting bahwa kehidupan kita jauh lebih luas dan lebih berharga daripada sekadar status jabatan di tempat kerja.
Meskipun dunia kerja memiliki sisi gelap yang nyata, jalan keluarnya bukanlah dengan bersikap apatis atau malas bekerja. Bagi generasi muda, kemandirian finansial dan kerja keras tetap merupakan fondasi utama untuk membangun kehidupan yang lebih baik, bermartabat, dan mandiri. Menolak eksploitasi bukan berarti memelihara kemalasan. Justru, anak muda hari ini dituntut untuk bekerja dengan lebih cerdas: menyerap ilmu sebanyak-banyaknya, mengasah keahlian baru, dan membangun nilai tawar yang tinggi di pasar kerja.
Bekerja keras adalah cara kita untuk berdaya, agar kita memiliki kendali penuh atas hidup kita sendiri dan tidak mudah disetir oleh keadaan. Ketika kita bekerja dengan sungguh-sungguh namun tetap memegang kendali atas ruang personal, kita sedang menempa diri menjadi pribadi yang tangguh sekaligus bijaksana. Ingatlah bahwa pekerjaan adalah sarana untuk menyejahterakan hidup dan mewujudkan impian, bukan tujuan akhir yang mengorbankan kemanusiaan kita. Tetaplah melangkah maju, berkarya dengan penuh semangat, dan bangun masa depan Anda dengan tangan Anda sendiri.
(terinspirasi dari buku The Metamorphosis karya Franz Kafka)