Buat Kamu yang Sedang Berjuang
Oleh : Fikri Aziz, S.E., Ak., CFP®, CA, ASEAN CPA
(Ketua Umum Yayasan Ali bin Abi Thalib Surabaya)
Dunia sekarang itu bising banget, ya? Di sekolah dituntut nilai bagus, di medsos dituntut kelihatan “perfect”, belum lagi kalau lagi “overthinking” soal masa depan. Nasehat ini hadir buat kamu, bukan sebagai ceramah yang membosankan, tapi sebagai peta jalan. Kita bakal bahas dari mana kita berasal, kenapa kita ada di sini, sampai ke mana kita bakal pergi nanti. Pendekatannya simpel: psikologi yang masuk akal dan ajaran Islam yang murni dari para ulama salaf, tanpa campuran yang aneh-aneh. Tujuannya satu: supaya kamu tahu kalau hidup ini adalah proyek desain Allah yang paling epik, menantang, dan pastinya bisa kamu taklukkan.
Pernah nggak sih kepikiran, “Kenapa ya gue lahir?” Sebelum kamu jadi perdebatan di grup WhatsApp keluarga karena mirip ayah atau ibu, kamu sudah melewati fase “Laboratorium Rahasia” di rahim ibu. Islam lewat Surah Al-Mu’minun ayat 12-14 menjelaskan kalau kamu itu bukan “kecelakaan statistik”. Kamu berawal dari saripati tanah yang rendah supaya kita nggak sombong, lalu jadi setetes mani (nuthfah) yang disimpan di tempat paling aman (rahim).
Di sana, Allah memprosesmu jadi segumpal darah (‘alaqah) yang bergantung kayak lintah, simbol kalau kita itu makhluk yang butuh pegangan, lalu jadi segumpal daging (mudghah), dibentuk tulang belulangnya, sampai akhirnya dibungkus daging lagi. Pas umur 120 hari, malaikat datang buat niupin ruh. Di momen itulah rezekimu, ajalmu, amalmu, sampai status “happy” atau “sad”-mu di akhirat sudah ditulis. Jadi, buat kamu yang sering cemas (anxiety) soal masa depan, rileks aja. “Blueprint”-nya sudah ada di tangan Yang Maha Kuat. Tugasmu sekarang cuma kasih performa terbaik di bagian “amal” atau usaha.
Dan tahu nggak? Jauh sebelum fisikmu ada, ruh kamu sudah pernah “zoom meeting” bareng Allah di Alam Ruh. Allah tanya, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” dan kita semua kompak jawab, “Benar, kami bersaksi” (QS. Al-A’raf: 172). Makanya, kalau kadang kamu merasa hampa meski sudah punya segalanya, itu tanda ruh kamu lagi kangen sama “kontrak” awal itu. Kamu itu makhluk spesial yang dipilih langsung oleh Pencipta alam semesta untuk turun ke bumi.
Sekarang kamu ada di fase yang disebut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah sebagai “masa kuat di antara dua masa lemah”. Dulu kamu bayi yang nggak bisa apa-apa, nanti kamu bakal tua dan pikun. Nah, usia SMP dan SMA ini adalah puncak energi kamu. Memori lagi tajam-tajamnya, fisik lagi segar-segarnya. Tapi hati-hati, kekuatan ini kayak api; bisa buat masak makanan enak atau malah bakar rumah sendiri.
Di fase ini, kamu pasti lagi sibuk cari identitas. Ibnu Qayyim bilang kalau karakter kita itu bekuan dari kebiasaan. Kalau sekarang kamu terbiasa disiplin, jujur, dan berani hadapi tantangan, karakter itu bakal jadi identitas permanenmu sampai dewasa. Jangan mau jadi “generasi stroberi”, kelihatannya cantik tapi ditekan dikit langsung penyet. Kamu harus punya Adversity Quotient alias daya tahan banting yang tinggi. Caranya? Punya mentalitas “Jagalah Allah, maka Allah bakal jagain kamu”. Kalau kamu jaga shalat dan batasan-Nya, Allah yang bakal ambil alih urusan sulitmu. Itu “privilege” anak muda Muslim yang sesungguhnya.
Hidup itu nggak selamanya pelangi, tapi nggak selamanya mendung juga. Kamu perlu punya “diet emosional” yang seimbang antara Khauf (takut) dan Raja’ (harapan). Ibnu Qayyim mengibaratkan keduanya kayak dua sayap burung. Kalau cuma satu yang jalan, burungnya bakal muter-muter terus jatuh.
Raja’ itu optimisme yang terukur. Ini yang bikin kamu tetap semangat meski nilai ujian jeblok atau gagal masuk ekskul idaman. Kamu yakin Allah punya rencana lain yang lebih keren. Sementara Khauf itu remnya. Bukan takut yang bikin depresi, tapi kewaspadaan supaya kamu nggak terjerumus ke hal-hal konyol kayak narkoba atau pergaulan bebas karena merasa “hidup cuma sekali”. Optimisme tanpa kewaspadaan itu namanya halu; kewaspadaan tanpa optimisme itu namanya frustrasi. Jadi, pasang kedua sayap itu supaya kamu bisa terbang tinggi dengan stabil.
Kalau kamu butuh role model, nggak perlu cari pahlawan fiksi. Sejarah Islam punya “The Legend Squad” yang prestasinya bikin kita geleng-geleng kepala. Ada Usamah bin Zaid, cowok umur 17 tahun yang sudah dipercaya Rasulullah jadi panglima perang buat mimpin sahabat-sahabat senior. Bayangin, umur segitu dia bukan sibuk “war” di game online, tapi memimpin pasukan beneran!
Terus ada Mus’ab bin Umair, “anak sultan” Mekkah yang bajunya selalu paling branded dan parfumnya paling wangi. Pas masuk Islam, dia tinggalkan semua kemewahan itu demi jadi duta besar pertama di Madinah. Ada juga Abdullah bin Abbas yang “gila” ilmu dan jadi rujukan tafsir dunia di usia muda. Mereka ini bukti kalau umur belasan itu waktunya berkarya dan menaklukkan mimpi, bukan cuma waktu buat “rebahan” sambil nunggu keajaiban datang. Kamu punya potensi yang sama, tinggal mau dipakai buat apa energi itu.
Gimana kalau rintangan datang? Strategi paling paten adalah “Tawakkal Aktif”. Ingat cerita orang yang nggak ikat untanya karena alasan tawakkal? Nabi tegur dia, “Ikat dulu untamu, baru tawakkal”. Jadi buat kamu, tawakkal itu artinya belajar mati-matian, riset maksimal, latihan terus, baru setelah itu lepasin hasilnya ke Allah. Tawakkal itu bikin kita tenang karena kita tahu “Partner” kerja kita adalah Yang Maha Kuasa. Kalau berhasil kita bersyukur, kalau belum sesuai harapan kita yakin itu “filter” dari Allah buat kebaikan kita nanti.
Jangan lupa buat sering-sering muhasabah alias audit diri. Tapi ingat, audit diri itu buat cari solusi, bukan buat menghakimi diri sendiri sampai membenci diri sendiri (self-loathing). Nasihat Hasan al-Bashri simpel banget: fokus di hari ini saja. Kemarin sudah lewat, besok belum tentu datang. Selesaikan tugasmu hari ini dengan gaya dan integritas paling maksimal.
Terakhir, kita bakal bahas soal garis finish: kematian. Di Islam, kematian bukan Game Over, tapi New Game Plus, awal dari level yang sesungguhnya dan abadi. Mengingat mati itu bukan supaya kita jadi sedih atau berhenti sekolah. Justru kesadaran kalau waktu kita terbatas itu bakal jadi “bensin” supaya kita nggak buang-buang waktu buat hal nggak jelas.
Dunia ini cuma bandara, tempat transit. Jangan bangun rumah permanen di bandara, tapi fokuslah supaya penerbanganmu nanti lancar sampai ke rumah asli kita: Surga. Perjalanan kita masih panjang, mulai dari Alam Ruh, Rahim, Dunia, Barzakh, sampai akhirnya nanti kita nyeberang Titian Sirat yang kecepatannya tergantung cahaya amal kita di dunia sekarang.
Hidup ini indah kalau kamu punya pegangan. Tantangan itu ada buat ditaklukkan, bukan buat dihindari. Dengan optimisme yang pas dan sandaran yang kuat sama Allah, nggak ada mimpi yang terlalu besar buat dicapai. Kamu diciptakan dengan tujuan, kamu punya kekuatan, dan kamu punya masa depan yang luar biasa. Jadi, mulai sekarang, tegakkan badan, pasang niat yang benar, dan mari taklukkan dunia dengan cara yang berkelas!