MBG dan Adam Smith
Oleh : Fikri Aziz, S.E., Ak., CFP®, CA, ASEAN CPA
(Ketua Umum Yayasan Ali bin Abi Thalib Surabaya)
Pembangunan sebuah bangsa sering kali terjebak pada magnitudo fisik yang kasat mata, seperti bentangan jalan tol yang membelah pulau, kemegahan pelabuhan, hingga menara-menara pencakar langit yang mencakar cakrawala. Namun, jauh pada tahun 1776, sang bapak ekonomi modern, Adam Smith, telah meletakkan batu pijakan filosofis yang sepenuhnya berbeda melalui karya monumentalnya, The Wealth of Nations. Adam Smith menegaskan bahwa kemakmuran sejati suatu bangsa tidak pernah dihitung dari akumulasi benda mati ataupun tumpukan logam mulia, melainkan dari “daya kerja kolektif nasional” yang diproduksi oleh masyarakat itu sendiri. Bagi Adam Smith, esensi kemakmuran ini sangat bergantung pada tingkat keahlian, kecekatan, dan akal sehat dalam penerapan daya kerja tersebut. Dalam diskursus kebijakan publik kontemporer, pemikiran Adam Smith ini memberi warna bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG), sebuah program yang sering kali disalahpahami sebagai sekadar bantuan konsumsi jangka pendek, padahal sejatinya dapat dianalisis sebagai upaya terstruktur untuk membangun modal tetap (fixed capital) yang tertanam di dalam diri raga manusia.
Pada masanya, Adam Smith secara radikal menolak dogma usang para pemilik modal yang menganggap bahwa pemenuhan pangan yang melimpah bagi kaum buruh hanya akan melahirkan kemalasan dan kelalaian. Melalui analisis fisiologis dan psikologis yang tajam, Adam Smith menyatakan bahwa kecukupan pangan yang melimpah secara langsung berkorelasi positif dalam meningkatkan kekuatan fisik seorang pekerja. Pekerja yang gizinya tercukupi secara alami akan memanifestasikan performa yang lebih aktif, rajin, dan tangkas. Dalam konteks program Makan Bergizi Gratis, pemikiran Adam Smith ini menjadi fondasi yang kokoh bahwa intervensi gizi pada usia sekolah bukanlah pemborosan anggaran, melainkan sebuah prasyarat biologis mutlak untuk melahirkan kapasitas fisik dan kognitif generasi masa depan. Mengabaikan pemenuhan gizi anak-anak saat ini, sembari mengharapkan produktivitas ekonomi yang ekstrem di masa depan, adalah sebuah anomali berpikir yang mengabaikan hukum alam kekuatan ragawi manusia.
Lebih jauh lagi, pemikiran Adam Smith menyejajarkan manusia terampil dengan teknologi tinggi melalui analogi “mesin mahal yang canggih”. Adam Smith menjelaskan bahwa seorang manusia yang dididik dengan curahan waktu dan tenaga untuk menguasai keterampilan luar biasa dapat disamakan dengan mesin mahal yang diharapkan mampu mengembalikan seluruh modal investasinya sekaligus memberikan keuntungan bersih yang melimpah. Namun, Adam Smith juga mengingatkan adanya risiko mortalitas yang mengintai investasi manusia ini. Di tengah kondisi kemiskinan dan kelangkaan pangan, anak-anak diibaratkan Adam Smith seperti tanaman muda yang lembut yang terpaksa tumbuh di atas tanah yang dingin dan iklim yang kejam, sehingga layu dan gugur secara massal sebelum sempat memberikan kontribusi produktif. Dalam lanskap ini, program Makan Bergizi Gratis diposisikan sebagai intervensi negara untuk menghangatkan tanah yang dingin tersebut, memastikan agar kapasitas kognitif anak-anak tidak hancur oleh stunting sebelum mereka sempat masuk ke dalam sistem pembagian kerja yang kompleks guna memicu kondisi ekonomi yang progresif.
Kendati argumentasi di atas tampak sangat memikat, pembacaan yang jujur dan objektif terhadap pemikiran Adam Smith menuntut kita untuk melihat sisi sebaliknya secara kritis. Menggunakan nama besar Adam Smith untuk menjustifikasi program bantuan pangan massal yang dikomandoi oleh negara sebenarnya memicu kontradiksi teoretis yang sangat tajam. Adam Smith, dalam seluruh warisan pemikiran ekonominya, adalah seorang pembela utama sistem pasar bebas yang sangat skeptis terhadap campur tangan pemerintah. Menyerahkan tata kelola penyediaan makanan jutaan anak kepada birokrasi negara berpotensi besar melahirkan inefisiensi alokasi sumber daya yang justru paling ditakuti oleh Adam Smith. Kebijakan top-down berskala raksasa ini rentan menciptakan distorsi pasar, merusak ekosistem rantai pasok pangan lokal, dan memicu efek penggusuran inisiatif swasta atau yang dikenal sebagai crowding-out effect. Ketika negara bertindak sebagai penyedia tunggal, efisiensi yang lahir dari kompetisi pasar alami yang dipuji Adam Smith justru berisiko lumpuh.
Tantangan terbesar yang menepis glorifikasi sepihak atas program ini terletak pada realitas kelembagaan dan beban fiskal negara. Sebuah bangsa tidak akan pernah mampu melompat menuju “kondisi progresif” yang dicita-citakan Adam Smith apabila struktur kelembagaannya rapuh dan rentan terhadap kebocoran anggaran. Ketika kualitas institusi publik suatu negara masih diwarnai oleh tantangan tata kelola dan korupsi, investasi besar-besaran pada “mesin manusia” ini rentan berubah menjadi pemborosan fiskal yang akut. Alih-alih menghasilkan tenaga kerja yang cekatan, program yang salah sasaran dan koruptif justru akan membebani APBN, meningkatkan utang negara, dan menekan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Oleh karena itu, program Makan Bergizi Gratis harus dipandang secara berimbang: ia adalah sebuah ikhtiar mulia dengan basis biologis yang kuat untuk membangun modal manusia, namun di sisi lain, ia merupakan sebuah taruhan kebijakan berisiko tinggi yang keberhasilannya tidak ditentukan oleh retorika filosofis, melainkan oleh ketatnya pengawasan, transparansi, dan efisiensi eksekusi di lapangan agar tidak menjadi episentrum baru inefisiensi negara.