Menemukan Keberkahan Tanpa Harus Kehilangan Arah
Oleh : Fikri Aziz, S.E., Ak., CFP®, CA, ASEAN CPA
(Ketua Umum Yayasan Ali bin Abi Thalib Surabaya)
Setiap pagi, jutaan orang bergegas menuju tempat kerja dengan satu pertanyaan mendasar yang sering kali luput dari perenungan: apakah mereka sedang mencari pekerjaan, ataukah sedang mencari penghasilan? Dua orientasi ini sekilas tampak serupa, namun dalam realitas psikologis dan perilaku, keduanya berdiri di atas landasan yang saling bertolak belakang.
Mencari pekerjaan sering kali menjelma menjadi perburuan posisi, gelar, dan kekuasaan struktural di dalam organisasi. Asumsi yang dibangun adalah sebuah kepastian linier bahwa semakin tinggi jabatan, maka akan semakin besar pula penghasilan yang didapatkan. Sebaliknya, mencari penghasilan berfokus secara fungsional pada arus masuk keuangan (financial inflow) dan nilai guna riil dari keahlian yang dimiliki. Fokus ini tidak memedulikan sekat-sekat struktural ataupun pengakuan formal dari birokrasi tempatnya bernaung.
Dalam dinamika dunia kerja modern yang kerap diwarnai oleh intrik, pergeseran fokus dari mengejar jabatan struktural menuju esensi pencarian nafkah bukanlah sekadar langkah taktis untuk menghindari stres. Lebih dari itu, langkah ini merupakan bentuk redefinisi hidup yang sangat rasional menurut teori perilaku organisasi, sekaligus sebuah pemenuhan panggilan spiritual yang mulia.
Untuk memahami mengapa fokus pada posisi struktural sering kali berujung pada kelelahan mental, kita dapat merujuk pada teori orientasi kerja (work orientation) yang dikembangkan oleh Amy Wrzesniewski dan Robert Bellah. Kajian ini membagi cara pandang manusia terhadap pekerjaannya ke dalam tiga kategori utama: pekerjaan (job), karier (career), dan panggilan jiwa (calling). Perbedaan orientasi ini uniknya tidak ditentukan oleh jenis pekerjaan ataupun tingkat pendapatan, melainkan oleh makna personal yang dilekatkan individu pada aktivitas kesehariannya.
Seseorang yang terjebak dalam paradigma “mencari pekerjaan” umumnya memiliki orientasi karier (career orientation) yang sangat kuat. Mereka digerakkan oleh faktor ekstrinsik seperti status sosial, kekuasaan, dan kenaikan pangkat yang linier. Masalahnya, ketika orientasi ini tumbuh subur di lingkungan yang tidak sehat, ia akan mengalami degenerasi menjadi patologi perilaku yang disebut karierisme (careerist orientation).
Karierisme adalah sebuah kondisi psikologis di mana seseorang meyakini bahwa kinerja objektif (meritocracy) tidak lagi cukup untuk membawa mereka ke puncak kekuasaan struktural. Karierisme percaya bahwa untuk naik jabatan, mereka harus memanipulasi lingkungan sosial melalui cara-cara non-performa (non-performance-based means). Di sinilah politik kantor dimulai. Energi yang seharusnya dialokasikan untuk meningkatkan produktivitas justru habis terkuras untuk merancang taktik manajemen kesan (impression management). Perilaku ini berwujud dalam bentuk tindakan menjilat pimpinan (ingratiation), menonjolkan diri secara manipulatif (self-promotion), hingga menciptakan citra palsu sebagai pekerja keras (exemplification).
Secara empiris, tingginya persepsi politik dalam organisasi (Perceived Organizational Politics) memiliki hubungan kausal yang kuat dengan penurunan komitmen afektif karyawan. Karyawan yang fokus pada jabatan struktural namun terjebak dalam iklim politik yang tinggi akan mengalami alienasi kerja dan kecemasan yang konstan.
Mereka rentan melakukan berbagai penyimpangan perilaku, seperti memalsukan jam kerja, memanipulasi tempo kerja, hingga menyuarakan pendapat kosong (speaking-for-show) yang tujuannya semata-mata untuk menarik perhatian atasan tanpa memberikan kontribusi nyata bagi organisasi. Perilaku ekstra yang mulanya tulus, seperti membantu rekan kerja (Organizational Citizenship Behavior), bergeser menjadi sekadar alat kosmetik politik untuk mempercantik citra diri.
Di sinilah keindahan ajaran Islam hadir memberikan solusi yang menenteramkan jiwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan umat-Nya untuk mencari dan mengonsumsi rezeki yang tidak hanya halal, melainkan juga thoyyib (baik, bersih, sehat, dan menenteramkan). Perintah ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168).
Dalam konteks dunia kerja, halal merujuk pada keabsahan jenis pekerjaan dan tidak adanya unsur syariat yang dilanggar. Namun, kata thoyyib membawa dimensi yang lebih dalam. Thoyyib mencakup bagaimana proses rezeki itu dijemput—apakah didapatkan dengan cara-cara yang mulia atau justru melalui cara-cara yang merendahkan martabat kemanusiaan.
Menghindari intrik politik kantor, menjauhi perilaku saling menjatuhkan, dan tidak menjilat atasan demi promosi jabatan adalah interpretasi nyata dari konsep menjemput rezeki yang thoyyib. Ketika seseorang membebaskan fokusnya dari ambisi posisi struktural dan beralih pada pencarian penghasilan yang bersih, ia tengah menjaga kesucian rezekinya agar benar-benar menjadi darah daging yang berkah.
Meskipun demikian, menjauhi politik kantor tidak berarti seorang muslim harus bersikap naif, apatis, atau menutup mata dari realitas sekitar. Islam adalah agama yang mengajarkan kecerdasan dan kewaspadaan. Memahami peta politik kantor, mengenali klik kekuasaan, serta mengamati perilaku para karieris di tempat kerja merupakan bagian dari langkah taktis agar kita tidak dicurangi, dimanipulasi, atau dijadikan kambing hitam.
Generasi Salaf mengajarkan kita untuk memiliki pandangan yang tajam terhadap realitas sosial namun tetap menjaga kebersihan hati. Kita harus memahami bagaimana dinamika kekuasaan bergerak di sekitar kita agar dapat melindungi hak-hak profesional kita, menjaga amanah pekerjaan, dan mencegah timbulnya kezaliman yang dapat merugikan diri sendiri maupun organisasi. Kita memahami politik kantor bukan untuk ikut bermain di dalamnya, melainkan untuk membentengi diri agar integritas kita tetap terjaga tanpa cela.
Bagi generasi Salafush Shalih, bekerja adalah sarana mulia untuk menjaga kehormatan diri (muru’ah) agar tidak bergantung pada belas kasihan manusia. Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti dalam kitabnya Rawdhah al-Uqala meriwayatkan sebuah hadits mulia mengenai pilar harga diri manusia:
“Kemuliaan seseorang ialah pada agamanya, muru’ah (kehormatan diri)-nya ada pada akalnya, dan harga dirinya ada pada akhlaknya.”.
Seseorang yang menghabiskan energinya untuk berpolitik praktis di tempat kerja sesungguhnya sedang meruntuhkan muru’ah-nya sendiri. Tindakan memuji secara berlebihan demi mendapatkan simpati penguasa kantor, atau menyembunyikan kebenaran demi mengamankan posisi, adalah bentuk kehinaan yang mengikis wibawa seorang mukmin. Sebaliknya, ketika seseorang fokus pada profesionalisme murni dan mengandalkan keahlian nyata untuk menjemput rezeki, ia tengah berdiri tegak di atas singgasana kemuliaan dirinya.
Langkah redefinisi ini hanya akan berhasil jika diiringi oleh sifat qana’ah—yaitu kelapangan hati untuk merasa cukup dan rida terhadap bagian rezeki yang telah Allah takdirkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu diukur dengan banyaknya harta benda, melainkan kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa (kaya hati).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sikap qana’ah adalah penawar paling mujarab bagi penyakit tamak. Orang yang memiliki sifat qana’ah tidak akan pernah merasa cemburu atau terancam oleh pencapaian struktural orang lain. Ia bekerja dengan tenang karena meyakini bahwa takdir Allah tidak akan pernah salah alamat. Ketenangan batin inilah yang membebaskan dirinya dari lingkaran setan politik kantor, sehingga ia bisa mencurahkan seluruh energinya untuk berkarya dengan kualitas terbaik.
Beralih fokus pada pencarian penghasilan dan melepaskan ambisi jabatan struktural sama sekali tidak boleh dijadikan pembenaran untuk bekerja secara asal-asalan. Sebaliknya, manhaj Salaf menuntut tingkat profesionalisme yang sangat tinggi melalui konsep itqan (kesungguhan dan kecermatan) serta ihsan (kesadaran akan pengawasan Allah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (profesional, tekun, dan cermat).” (HR. Thabrani).
Itqan berarti bekerja dengan perencanaan yang matang, persiapan yang teliti, dan penyelesaian yang sempurna. Para nabi terdahulu adalah teladan nyata dalam etos kerja ini. Nabi Daud ‘alaihissallam, misalnya, tidak sekadar membuat baju besi, melainkan mengukur anyamannya dengan sangat presisi agar aman digunakan dalam pertempuran. Beliau makan dari hasil jerih payahnya sendiri dengan kualitas kerja yang diakui.
Seorang muslim yang profesional akan menghasilkan karya yang begitu bernilai, sehingga pendapatan (financial inflow) yang ia terima merupakan konsekuensi logis dari nilai manfaat nyata yang ia berikan bagi dunia, bukan hasil dari manipulasi citra politik kantor.
Kerusakan moral yang diakibatkan oleh ambisi mengejar kekuasaan struktural telah diperingatkan dengan sangat keras oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sebuah perumpamaan yang sangat dahsyat:
“Dua serigala lapar yang dilepaskan di tengah segerombolan domba tidak lebih merusak bagi domba-domba tersebut dibandingkan ketamakan seseorang terhadap harta dan kedudukan bagi agamanya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Al-Hafidz Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam ulasannya yang mendalam menjelaskan bahwa perumpamaan ini menggambarkan kehancuran total yang menimpa nilai-nilai agama seseorang akibat ambisi buta mengejar kehormatan sosial dan kekuasaan. Serigala lapar yang menyerang kawanan domba tanpa penjagaan gembala tentu akan membantai dan menghabisi kawanan tersebut hingga nyaris tak bersisa.
Namun, kerusakan spiritual yang ditimbulkan oleh ambisi jabatan (syaraf) jauh lebih mengerikan bagi keimanan seorang mukmin. Demi meraih posisi yang tinggi di mata manusia, seseorang sering kali rela mengorbankan kejujurannya, menggadaikan persaudaraannya, serta mengabaikan batasan-batasan syariat. Ambisi kedudukan melahirkan kesombongan, ketidakmampuan menerima kebenaran, serta kecenderungan untuk memanipulasi keadaan demi keuntungan pribadi.
Pada akhirnya, ini mengajak kita semua untuk melakukan jeda dan menata ulang niat kita dalam bekerja. Berpindah haluan dari sekadar memburu jabatan struktural yang penuh intrik politik, menuju fokus pada pencarian penghasilan yang halal lagi thoyyib, adalah keputusan yang menyelamatkan kesehatan mental sekaligus menyelamatkan iman kita.
Dengan tetap memahami peta politik kantor secara cerdas agar tidak menjadi korban manipulasi, kita dapat melangkah di koridor profesionalisme yang bersih. Kita tidak lagi membutuhkan validasi politis atau pujian semu dari atasan.
Keberadaan kita di tempat kerja sepenuhnya didasarkan pada nilai manfaat (itqan), harga diri (muru’ah), dan ketenangan jiwa (qana’ah). Inilah jalan kerja yang tidak hanya mendatangkan kemakmuran finansial di dunia, melainkan juga menuntun kita pada rida dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.