Segala Hal Memang Harus Naik karena Dollar Mahal

Oleh Fikri Aziz, S.E., Ak., CFP®, CA, ASEAN CPA

(Ketua Umum Yayasan Ali bin Abi Thalib Surabaya dan Mahasiswa S2 Akuntansi Syariah Universitas Tazkia Bogor)

 

Mungkin isu ini agak memudar dari perbincangan publik, tapi penting diangkat lagi karena beberapa alasan: harga BBM masih jadi beban harian masyarakat, kebingungan soal kenapa harga tak ikut turun saat minyak dunia melandai masih sering muncul, dan ini relevan untuk dipahami agar kita tidak mudah terpancing rumor yang keliru.

 

Ketika kabar nilai tukar rupiah yang bertengger di Rp 18.200 per dollar AS bertemu dengan kenaikan harga BBM non-subsidi—seperti Pertamax yang naik menjadi Rp 16.250 per liter—banyak orang jadi bingung.

 

Pertanyaan yang sering muncul: kenapa saat harga minyak dunia melonjak, harga BBM kita tetap tenang, tapi begitu harga minyak dunia turun, harga BBM kita malah lambat turun atau bahkan ikut naik?

 

Untuk memahami ini, kita perlu melihatnya dari tiga sisi: cara Pertamina menghitung biaya, cara konsumen bereaksi secara psikologis, dan situasi diplomasi energi yang sedang berjalan di belakang layar.

 

Pertamina tidak menentukan harga jual BBM berdasarkan harga minyak yang berubah setiap detik di bursa London atau New York. Mereka memakai metode biaya rata-rata bergerak.

 

Artinya, BBM yang kita pakai hari ini sebenarnya berasal dari minyak mentah yang sudah dibeli, dikapalkan, dan diolah sejak satu hingga tiga bulan lalu. Harga resminya mengacu pada rata-rata harga acuan minyak (seperti MOPS) dalam periode sebelumnya, ditambah biaya distribusi, margin, dan pajak.

 

Ketika harga minyak dunia melonjak tinggi, pemerintah dan Pertamina biasanya tidak langsung menaikkan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar.

 

Tujuannya melindungi daya beli masyarakat dan mencegah inflasi melonjak. Negara menjadi “peredam kejut” dengan mengeluarkan dana subsidi besar—tercatat Rp 203,7 triliun hanya dalam periode Januari hingga Mei.

 

Sebaliknya, ketika harga minyak dunia mulai turun, harga BBM domestik tidak bisa langsung ikut turun. Pertamina masih harus menghabiskan stok lama yang sudah dibeli dengan harga tinggi sebelumnya.

 

Selain itu, pemerintah juga memanfaatkan momen penurunan harga dunia ini untuk menyeimbangkan kembali kas negara yang sempat terkuras akibat subsidi besar-besaran.

 

Dalam istilah akuntansi, ini disebut proses pemulihan biaya, agar kondisi keuangan negara tetap sehat.

 

Lalu, bagaimana dengan kesepakatan impor 150 juta barel minyak dari Rusia dengan harga khusus sekitar 59 dollar AS per barel—jauh di bawah harga pasar dunia? Kenapa diskon besar ini belum terasa menurunkan harga BBM di pom bensin?

 

Ada beberapa alasan logis di baliknya:

 

Pertama, minyak dari Rusia ini awalnya bukan untuk langsung dijual ke konsumen. Minyak ini disimpan sebagai cadangan energi strategis, untuk menjamin pasokan kita aman di tengah ketidakpastian geopolitik global.

 

Kedua, soal waktu dan aturan. Untuk melegalkan kesepakatan ini, Presiden baru menandatangani Peraturan Presiden Nomor 26 yang menugaskan Lemigas dan Pertamina sebagai importir resmi. Proses hukum, pengiriman kapal secara bertahap, dan pencampuran minyak ke sistem kilang dalam negeri membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

 

Ketiga, soal pelemahan rupiah. Minyak Rusia dibeli dengan dollar AS. Meski harganya didiskon murah, pelemahan rupiah ke Rp 18.200 per dollar AS membuat sebagian besar keuntungan diskon itu tergerus saat dikonversi ke rupiah.

 

Keempat, soal keseimbangan diplomasi. Ada hal sensitif yang harus dijaga pemerintah: di satu sisi kita memperkuat hubungan energi dengan Rusia, di sisi lain kita baru memperkuat kerja sama pertahanan dengan Amerika Serikat. Keseimbangan ini menuntut kehati-hatian agar tidak memicu reaksi negatif dari pasar modal Barat yang menguasai sebagian besar ekosistem keuangan kita.

 

Ada juga faktor psikologi konsumen yang ikut bermain.

 

Berita tentang dollar yang terus menguat membuat banyak orang secara tidak sadar memaklumi anggapan “segala hal memang harus naik karena dollar mahal”.

 

Produsen sering memanfaatkan pemakluman ini untuk menaikkan harga lebih awal, mengantisipasi biaya bahan baku di masa depan. Ketika masyarakat sudah terbiasa dengan berita krisis yang terus-menerus, kenaikan harga jadi lebih cepat diterima dibanding penurunan harga yang biasanya disambut dengan kecurigaan.

 

Dengan memahami cara Pertamina menghitung biaya dan strategi diplomasi energi pemerintah, kita bisa melihat fluktuasi harga ini secara lebih bijak dan rasional.

 

Langkah pemerintah mengamankan minyak murah dari Rusia adalah investasi jangka panjang untuk kedaulatan energi, yang efeknya butuh waktu untuk benar-benar terasa di tingkat masyarakat.

 

Tetap tenang.
Kritis terhadap rumor.
Terus mendukung kekuatan ekonomi dalam negeri adalah kunci kita melewati gejolak ini bersama, dengan izin Allah, semoga Allah mudahkan.